6 Dampak Negatif Micromanagement Pada Bisnis Kuliner

thumbnail

Bisnis kuliner memang harus dikelola dengan baik, entah itu oleh pemilik bisnis, manajer, maupun karyawan yang dipercaya untuk memimpin karyawan lain. Namun bagaimana jika pihak tersebut mengelola secara berlebihan atau menerapkan sistem micromanagement?

baca juga:

Apa itu micromanagement? Singkatnya, micromanagement adalah situasi dimana seorang atasan mengelola dan mengatur karyawan-karyawannya secara berlebihan dan terlalu merinci setiap detail. Hal ini ternyata bisa berdampak negatif tak hanya bagi karyawan namun juga bisnis kuliner, lho!

Untuk pemahaman yang lebih baik tentang hal ini, STOQO telah merangkum 6 dampak buruk micromanagement bagi karyawan dan bisnis kuliner berikut ini:

1. Karyawan bisnis kuliner merasa tidak bisa berkembang

Salah satu dampak negatif micromanagement adalah karyawan bisnis kuliner tidak akan bisa mengembangkan potensinya secara maksimal. Mengapa? Karena atasan yang mengelola dengan sistem micromanagement cenderung terlalu memperhatikan setiap gerak-gerik karyawan, bahkan mengkritik serta mendikte setiap langkah yang harus diambil.

Tak jarang atasan yang menerapkan sistem micromanagement juga akan mengambil alih pekerjaan yang seharusnya dilakukan karyawan karena ia merasa tidak sabar atau merasa bisa melakukannya sendiri. Sikap ini hanya akan membuat karyawan tidak memiliki kesempatan mengembangkan potensi, serta merasa tak yakin dengan kemampuannya.

2. Karyawan bisnis kuliner bisa terkena stress

Bayangkan jika setiap langkah yang diambil selalu diawasi dan dikritik satu per satu. Pastinya tidak akan nyaman, bukan? Sama halnya dengan karyawan bisnis kuliner yang terlalu diawasi dan dikritik setiap langkah-langkahnya, mereka pun akan merasakan hal yang sama.

Belum lagi jika atasan tersebut mengkritik secara pedas dan melontarkan kata-kata yang tidak enak didengar atau kasar. Karyawan yang mengalami hal ini lama kelamaan bisa mengalami stres dan tekanan yang berdampak tak hanya pada pekerjaan namun juga kehidupan sehari-hari.

3. Karyawan bisnis kuliner rentan terkena masalah kesehatan

Stres sering dikaitkan dengan kesehatan. Bahkan sudah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang mengalami stres cenderung rentan terkena penyakit seperti sesak napas, masalah pencernaan, stroke, hingga penyakit jantung. Itu artinya, micromanagement yang bisa menyebabkan stres pada karyawan dapat membuat mereka rentan terkena penyakit.

4. Karyawan bisnis kuliner merasa tidak nyaman berada di tempat kerja

Karyawan yang merasa nyaman di tempat kerja akan lebih mungkin untuk bekerja sepenuh hati. Sayangnya, micromanagement hanya akan membuat karyawan merasa tak nyaman berada di tempat kerja karena tekanan yang dialami. Alhasil, karyawan bukannya fokus pada pekerjaan namun justru hanya sibuk menunggu waktu pulang. Karyawan yang merasa tidak nyaman pun juga akan lebih mungkin memperpanjang waktu cuti atau absen dari pekerjaan.

5. Karyawan bisnis kuliner cenderung tidak terbuka pada atasan

Micromanagement menciptakan karyawan yang tidak bisa terbuka pada atasan dengan leluasa karena takut suaranya tak akan didengar, maupun takut ketika ia menyuarakan pendapatnya justru sang atasan akan merendahkan atau menghinanya. Padahal dalam menjalankan bisnis kuliner, ada kalanya butuh diskusi antar pegawai yang tujuannya untuk mencapai kesepakatan atau menemukan ide untuk memajukan usaha. Bisa jadi pegawai yang sebenarnya punya ide bagus justru hanya berdiam diri karena merasa tak yakin untuk berpendapat.

6. Peningkatan jumlah pengunduran diri

Karyawan bisnis kuliner yang merasa stres, tak bisa mengembangkan potensi, dan tak tahan dengan keadaan di tempat kerja akan lebih mungkin untuk mengundurkan diri. Kemudian, bisa jadi ia pindah ke bisnis kuliner kompetitor atau bahkan menjadi kompetitor itu sendiri dengan membawa resep yang ia pelajari dari tempat ia bekerja sebelumnya. Hal ini tentu bisa merugikan bisnis kuliner.

Selain itu, mencari orang lain sebagai pengganti karyawan yang mengundurkan diri juga belum tentu mudah. Bisnis kuliner akan mengeluarkan dana lebih untuk perekrutan dan pelatihan. Belum lagi jika jumlah karyawan yang mengundurkan diri cukup banyak dan sering. Perlu diketahui bahwa semakin tinggi jumlah pengunduran diri di suatu usaha, reputasi tempat tersebut juga bisa terpengaruh.

baca juga:

Itulah 6 dampak buruk micromanagement bagi karyawan dan bisnis kuliner. Semoga bermanfaat!

Solusi Mudah Kebutuhan Bisnis Kuliner

Bahan pokok bisnis kuliner dalam 1 aplikasi. Dengan pelayanan terbaik, juga pesanan diantar. Download STOQO di Playstore goo.gl/d3L2YR

Dipost Oleh

Kontributor

22 Oct 2018